Weapons

Just another WordPress.com weblog

Senapan “Bullpup”, Kebutuhan atau Sekadar Mode?

PRODUKSI senapan serbu jenis bull-pup seolah menjadi tren yang ramai-ramai dilakukan sejumlah industri senjata ringan di berbagai negara. Sejak dipopulerkan Inggris melalui Enfield L85A1/A2 (SA-80), Prancis (FAMAS),  Austria (Steyr AUG), Finlandia dengan Valmet M82,  Brazil dengan LAPA FA03, pada awal tahun 1990-an, produksi dan pengembangan senapan serbu jenis bull-pup pun banyak diikuti negara lain, bukan hanya di Eropa, di mana pabrik FN Belgia meluncurkan FN F2000, pun namun pula di Asia dan Afrika. 

Di Asia, yang sudah dikenal adalah Singapura dengan CIS SAR-21, misalnya belakangan diikuti Korsel (Daewoo DAR-21), Israel (Tavor TAR-21), Cina (Type 86 dan QBZ-95/97), Iran dengan Khaybar KH2002, Australia dengan AICW, dll. Industri senjata Indonesia melalui PT Pindad pun tak mau ketinggalan, melalui projek SS-2000, walau sampai kini masih tak jelas perkembangannya. Posisi magasen Senapan serbu jenis bull-pup, merupakan tipe yang memiliki mekanis dan posisi magasen peluru yang berbeda dibandingkan senapan serbu konvensional. Letak mekanis dan magasen peluru jenis bull-pup berada di belakang pelatuk, sedangkan jenis konvensional seperti yang selama ini kita kenal, berada di depan pelatuk senjata. 

Dibandingkan senapan serbu konvensional, panjang senapan serbu bull-pup umumnya lebih pendek. Keakuratannya diklaim produsennya, jauh lebih baik dibandingkan senapan serbu konvensional. Hal ini disebabkan tekanan dari letusan lebih tertahan, karena mekanis ada di belakang senapan.  Namun demikian, di tengah tumbuhnya kecenderungan produksi senapan bull-pup, belum diimbangi respons kalangan militer di sejumlah negara yang menyukai senapan serbu konvensional. Walau senapan serbu jenis bull-pup banyak dipromosikan sebagai sosok senapan serbu masa depan (futuristik). Kondisi demikian, tampak dialami sejak dua tahun terakhir. Perkembangan dan produksi senapan serbu bull-pup berkembang pesat di berbagai negara. Maka, dari seluruh pasukan di dunia, yang menggunakan senapan bull-pup secara massal, sampai kini hanya diketahui Inggris, Prancis, Austria, Australia, dan Malaysia.  Negara adidaya AS pun belum tertarik menggunakan senapan bull-pup sebagai standar pasukannya.

Walaupun mereka sudah merencanakan pergantian senapan serbu standar Colt M-16A3 dan M-16A4, namun produk futuristik penggantinya ternyata masih senapan serbu jenis konvensional pula, yaitu XM-8 yang aslinya merupakan produk Heckhler & Koch, Jerman, serta FN SCAR produksi Belgia.  Begitu pabrikan senjata ringan Izmash Rusia produsen senapan serbu Avtomat Kalashnikov (AK), masih mengandalkan produk-produk konvensional untuk pasukannya maupun pasaran ekspor. Mereka masih mempromosikan senapan serbu AK-101/102 (5.56 mm x 45) dan AK-103/104 (7.62 mm x 39), serta AK-74 (5.45 mm x 39.5), yang merupakan generasi susulan dari senapan serbu legendaris, AK-47 (7.62 mm x 39).  Adalah produk Izmash Rusia, Groza OC-14, dikabarkan belum memperoleh respons besar dari pasukan Rusia sendiri, apalagi pasaran ekspor.

Sampai kini, pemerintah Rusia masih terus mengkaji, penggunaan secara spesifik atau massal bagi senapan Groza OC-14, yang baru digunakan untuk pasukan khusus mereka, Spetsnatz. Kepala Departemen Protokol Izhmash, Andrei P. Vishnyakov menyebutkan, walaupun perusahaanya dikenal sebagai produsen senjata ringan kelas dunia, namun sampai kini masih bertahan mengandalkan produk-produk konvensional. Salah satu andalannya, adalah keandalan mekanis dan kemudahan bongkar-pasang mekanis seperti umumnya senapan serbu konvensional, misalnya dikenal pada senapan serbu AK-47. “Pangsa pasar kami kebanyakan masih negara-negara eks Blok Timur dan negara-negara dunia ketiga, yang kebanyakan keuangannya masih ‘cekak’. Rasanya masih sulit menawarkan produk mutakhir futuristik, apalagi negara-negara dimaksud umumnya masih terbiasa dengan teknologi senjata konvensional, khususnya produk Rusia eks Uni Sovyet dahulu,” katanya. 

Begitu pula dengan Korea Selatan, General Manager Pemasaran Bisnis Senjata Api Ringan Daewoo, Hyuk Um menyebutkan, pemerintah mereka memang berencana mengganti senapan serbu konvensional standar mereka, K-2 dengan DAR-21 buatan Daewoo. Namun soal digunakan secara massal ataukah hanya untuk pasukan khusus, sampai kini belum jelas. “Memang sih, pemerintah kami sudah merespon DAR-21, namun mereka belum mengisyaratkan pesanan secara besar untuk menggantikan K-2. Mungkin saja, pemerintah memiliki rencana lain, sehingga DAR-21 sampai kini belum banyak digunakan secara massal oleh pasukan negara kami,” katanya.  Keterangan serupa dilontarkan Pimpinan Teknologi Senjata Pusat Produksi Material Biro Armamen MPC Taiwan, Shr-Shiung Hu. Mereka masih sibuk mengenalkan dan mempromosikan senapan serbu konvensional terbarunya, T86.

“Kami sengaja tak membawa produk bull-pup rancangan kami ke sejumlah pameran industri pertahanan di Asia, termasuk di Indonesia. Di samping negara kami pun belum membutuhkan secara banyak, juga kalau diperkenalkan untuk dijual ekspor, tampaknya masih sulit mendapat respons,” ujarnya.  

Penggunaan senapan serbu bull-pup di Indonesia pun masih juga terbatas, yaitu pada kepolisian dan pasukan khusus AD, umumnya hanya Steyr AUG. Bahkan produk senapan serbu standar ke depan disebut-sebut senapan serbu konvensional SS-2 dari PT Pindad, untuk menggantikan FNC dan M-16A1. 

Urusan perawatan mekanis dan harga lebih mahal menjadi kendala utama penggunaan senapan jenis bull-pup. Di Indonesia, banyak kalangan militer mengaitkan dengan kebiasaan, senapan bull-pup dirasakan terlalu pendek dan kurang sreg digunakan. Muncul pertanyaan, produksi dan penggunaan senapan bull-pup, apakah sudah menjawab kebutuhan disain senapan serbu di masa depan?(Kodar Solihat)***

July 24, 2007 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

Pengertian Kaliber Peluru

  

DALAM berbagai publikasi media massa, baik cetak maupun elektronik, seringkali kita menemukan kekeliruan dalam penyebutan kaliber peluru, mulai senjata ringan sampai berat. Karena keawaman sebagian pihak, penulisan kaliber peluru jika akhirnya menimbulkan kerancuan dan kekeliruan yang berakibat ketakjelasan senjata yang dimaksud.

Pengertian kaliber peluru, artinya diameter proyektil dikalikan dengan panjang kelongsong peluru, yang biasanya dihitung dalam ukuran milimeter (umumnya daratan Eropa) dan inci (terutama Inggris dan Amerika). Untuk senjata genggam jenis pistol,  revolver, dan pistol mitraliur, yang paling umum adalah kaliber .22, kaliber 9 mm, kaliber 7,65 mm, kaliber .45, kaliber .32, kaliber .38, dll, sedangkan senapan dan senapan mesin yang kini umum digunakan adalah kaliber 7,62 mm,  kaliber 5,56 mm, kaliber .30.

Hanya saja, saat ini sering terjadi kekeliruan dalam penulisan kaliber peluru, terutama bagi kalangan awam, misalnya menyebutkan ada peluru pistol kaliber 45 mm, kaliber 38 mm. Padahal, angka kaliber peluru tersebut dihitung dalam ukuran inci, sebenarnya yaitu kaliber 0,45 inci yang ditulis dalam penulisan singkat ala internasional menjadi  .45 (titik 45 menunjukan singkatan dari 0,45 inci) jika dikalkulasi kepada hitungan milimeter menjadi 11,43 mm. Begitu pula kaliber 38, sebenarnya adalam 0,38 inci atau disingkat .38 yang dihitung ke dalam milimeter menjadi 9,6 mm. Jadi dapat dibayangkan, jika ada peluru memiliki kaliber 45 inci, ini berarti hampir seukuran peluru meriam !

Penggunaan peluru kaliber .45 sendiri, saat ini sudah jarang tak digunakan lagi, termasuk oleh ”mbahnya” yaitu Amerika, di mana mereka terakhir menggunakan melalui Colt M1911A1 yang kemudian digantikan Beretta M92F (kaliber 9 mm x19) pada awal tahun 1990-an. Saat ini, hampir seluruh negara menggunakan pistol dengan standar peluru kalier 9 mm x 19, termasuk eks Blok Uni Sovyet/Rusia dkk (tadinya menggunakan 9 mm x 18) dan produsen asal Asia, Amerika Selatan, Afrika, dll, walau masih ada sebagian memproduksi versi kaliber .45, .44, .40, dll. Begitu pula jika mengacu kepada kaliber dalam hitungan milimeter, ini pun menyangkut beberapa produk, karena ada beberapa kaliber yang tak sama. Misalnya kaliber 9 mm, untuk produk umum digunakan sebenarnya ada tiga jenis, yaitu 9 mm x 19 mm (disebut juga 9 mm Parabellum, 9 mm Luger, ini aslinya produk Eropa Barat, khususnya Belgia dan Jerman), 9 mm x 19 mm (disebut pula 9 mm Makarov, aslinya produk Rusia), dan 9 mm x 21 mm (produk Eropa Barat untuk senjata genggam sipil), serta 9 mm x 17. Sebagai gambaran, sejumlah pabrik senjata ringan, baik senjata genggam (pistol dan revolver) atau pistol mitraliur/sub-machine gun, bukan hanya memproduksi sebuah produk dengan satu standar kaliber saja, namun juga dalam beberapa kali sesuai pangsa pasar.

Saat ini yang paling banyak laku di pasaran dan menjadi standar adalah 9 mm x 19, disamping sebagian menggunakan versi kaliber .45 atau versi .38, kaliber .357 serta .44 (untuk militer dan polisi), untuk sipil biasanya kaliber 7,65 mm atau kaliber .32 serta kaliber .22. Untuk jenis senapan dan senapan mesin, produksi berbagai negara di dunia saat ini cenderung ramai-ramai menggunakan  5,56 mm x 45 yang dipopulerkan melalui senapan serbu M-16 di Vietnam dan senapan mesin regu FN Minimi Belgia, sedangkan versi lama 7,62 mm x 51 kini kebanyakan untuk keperluan khusus, misalnya penembak jitu di mana produk yang masih diandalkan adalah M-14 Amerika dan senapan mesin serbaguna FN MAG Belgia (serta versi buatan Inggris dan Amerika) dan M-60 Amerika, yang masih bertahan menggunakan 7,62 mm x 39 aslinya Uni Sovyet/Rusia pada senapan serbu AK-47 (dan produk-produk pengembangan dari Cina, Jerman Timur, Korea Utara, India, dll) .

Sedangkan pengertian kaliber peluru dari ukuran, misalnya 5,56 mm x 45, artinya, proyektil memiliki diameter 5,56 mm dengan panjang kelongsong 45 mm, 9 mm x 19 artinya proyektil berdiameter 9 mm dengan panjang kelonsong 19 mm. Sedangkan dengan pengukuran inci jarang dicantumkan dengan panjang kelongsong.

Contoh kaliber peluru senjata ringan yang umum digunakan: Senjata genggam Pistol   contoh    9 mm x 19;  Beretta M92 Italia (di Amerika disebut M-9), FN Browning ; P35  Belgia (di Indonesia sering disebut FN46, PT Pindad 

Bandung memproduksi dengan nama P-1), SiG Sauer P228 . Swiss/Jerman (Amerika menyebut M-11), Glock 17 Austria,   Walther PPS  dan HKP7 Jerman, Model 77 Cina, Bul M5 Israel  9 mm x 18             Makarov PM/PMM Rusia, P-64 Polandia, 7,62 x 25               Type 68 (Korea Utara).45                         Colt M1911/1911A1 (di Indonesia disebut FN 45) Revolver                .357                         FN Barracuda Belgia (diproduksi pula versi kaliber .38 SPC

                               dan 9 mm x 19), Manurhin M73 Prancis, Korth Jerman

.38                           Enfield no.2 Inggris, Colt Detective Special, Colt Police

                                Service Amerika, Colt Phyton Amerika.

.44                           S&W model 696 Amerika

Sub-Machine Gun

9 mm x 19               MP-5 Jerman, Uzi Israel (diproduksi pula kaliber .45), Beretta M12S                               (Indonesia melalui PT Pindad memproduksi versi sipil polisi hutan,                                   dengan nama PM1A1 kaliber 9 mm x 21), MP-40 Jerman,                                 Sten Inggris, Carl Gustav M45 Swedia, MAT-49 Prancis,                                 Changfeng Cina .45                           Thompson M1 Amerika, Ingram M-10/M-11 (juga diproduksi                                 kaliber 9 mm x 19),  9 mm x 18               PP-19 Bison (Rusia, diproduksi pula kal 9 mm x 19 dan                                 kal 7.62 mm x 25), CZ 61 (ada pula versi 9 mm x 17, dan                                 7,62 mm x 25) 

Senapan

5,45 mm x 39         AK-74

5,56 mm x 45         Colt M16A1/A4, M-4 Amerika, G-36 Jerman, FN FNC Belgia,

                               FN SCAR Belgia,  SS-1 dan SS-2 Pindad Indonesia, Insas India, 

                               FAMAS Prancis,   L85/SA-80 Inggris, SR-88 Singapura,

                               K-1 Korea Selatan,  AK-101/102 Rusia, Steyr AUG Austria,

                               F-88 Australia, Type 89 Jepang, XM-8 Amerika/Jerman,

                               Galil Israel (diproduksi pula kaliber 7,62 mm x 51), Tavor Israel 7,62 mm x 51         M-14 Amerika, G-3 Jerman, Beretta BM-59 Italia, SP-1 PT Pindad                                Indonesia 7,62 mm x 39        AK-47 Rusia, SKS Rusia, Type 56 Cina,  Senapan mesin 5,45 mm x 39        RPK-74 Rusia5,56 mm x 45        FN Minimi Belgia (dan produk pengembangannya di                               Amerika, Israel, dll),  Ultimax-100 Singapura, 7,62 mm x 51        FN MAG Belgia (dan produk pengembangan di Inggris,                               Amerika, Indonesia, dll), MG-3 Jerman7,62 mm x 39        RPK dan .50                         FN Browning M2HB, XM-32 Amerika, CIS .50 Singapura. ***

July 3, 2007 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

July 3, 2007 Posted by | Uncategorized | Leave a comment